Senin, 15 April 2013

Menghapus Jejajmu


Senja itu seperti iring-iringan bidadari yg akan pulang ke kayangan. Berarak indah penuh warna, ada nuansa jingga, ungu, biru, merah, hitam. Kita menamai saat itu adl cinta. Seperti ketika kita merangkai waktu di tepian pantai sambil bergelayut manja di dekapan.

Kita menamakan moment sebelas bulan lalu itu adl kasih sayg. Dimana kita saling memberikan rasa terdalam sebagai manusia, memadukan semua perbedaan dalam satu langkah untuk saling menerima.

Kita memberi rasa rindu dalam tiap detik yg terlewati. Kita tak hendak berpisah oleh angin  semilir yg membelai ujung rambut untuk kemudian sebuah kecupan menutup redupnya mata.

Kita menanti ombak kecil yg bermain di pasir pantai, menggiring camar yg berlari kecil di buih air laut. Kita menamai waktu itu adl hari kita.

Kemudian ketika aku dan kamu terhempas dalam sebuah sudut perpisahan. Kita tak lagi menemukan senja sebagai impian yg sering kita kejar di ujung laut. Bahkan bagiku senja itu terlalu menyakitkan, terlalu indah tanpamu, tanpa kita berdua.

Berbulan hingga kini, menyapa senja seperti kembali menggiring laraku. Menyeruak perih seperti luka yg tergores pasir dan air laut. Semuanya begitu serentak meniadakan cinta.

Senja adl luka, senja adl saat untuk membenamkan rindu menelupkan jauh ke dasar jiwa agar terus melupa. Melupakan setiap detik yg pernah kita lewati.

Hidup itu seperti Ice Cream lohh,,

Hidup itu bagaikan es krim. Ada yang rasa buah seperti stoberi, pisang, anggur juga durian. Ada juga rasa coklat, kacang dan lain sebagainya. Semua adalah es krim yang berbeda RASANYA saja. Ada yang kamu suka, ada juga yang tidak kamu suka.

Seperti itulah hidup. Ada rasa yg kamu suka, ada rasa yg tidak kamu suka.

Pernahkah ketika kamu menemukan es krim yang kamu suka dan kemudian kamu menjadi tidak menyukainya? Ataukah kamu mencoba rasa lain dan ternyata kamu tidak suka dan memarahi orang yang menjualnya? Pasti pernah bukan? Setidaknya – mungkin – pernah lihat.

Itulah yang sering kita lakukan dan perbuat pada diri kita sendiri.

Seringkali kita sudah berusaha melakukan apa yang kita percayai – es krim yang kita suka – tetapi tetap belum atau tidak memberikan hasil, lalu kita mencoba cara lain – es krim rasa lain – dan ternyata malah lebih parah lalu kemudian kita malah marah pada “penjualnya”.

Siapakah penjual yang saya maksud? Tentunya kamu sudah tahu.

Tuhan memberi kita banyak “rasa es krim”, suka atau tidak suka dimaksudkan supaya kita tahu bahwa es krim itu banyak rasa dan enak, hidup itu banyak warna, dan kamu diberi BANYAK PILIHAN untuk MEMILIH dan MENIKMATINYA.

Jika kamu tidak menyukai es krim rasa durian, maka jangan membeli yang rasa durian apalagi sampai memarahi penjualnya. Penjualnya sendiri telah memberikan kamu banyak pilihan dan tidak memaksamu untuk memilih yang tidak kamu suka.

Dan jangan pula ketika kamu tidak menyukai es krim rasa durian, kamu malah memberitahukan pada yang ingin mencobanya bahwa rasa itu tidak enak rasanya. Semua mempunyai SELERA HIDUP yang berbeda.

Bukankah lebih menyenangkan kamu menceritakan mengapa kamu suka rasa stoberi dan begitu menyukainya daripada mengeluh dan menjelekkan rasa durian bukan?

Dan bukankah bagi yang lain yang memang suka rasa durian akan tersinggung ketika kamu menjelekkan rasa durian?

Dan Menurutmu mana yang lebih menyenangkan, menceritakan rasa yang kamu suka dan membuatmu bersemangat dan menarik banyak teman, ataukah mengeluh tentang penjualnya yang menjual es krim tidak enak dan menjelekkannya yang justru merusak harimu yang indah?.

Itulah hidup. Ada banyak rasa. Dan kita semua diberi kebebasan memilihnya. TANPA PAKSAAN.

Ada yang memilih tetap menyukai stoberi saja sehingga tidak pernah merasakan rasa lainnya. Ada yang memilih BERANI mencoba rasa lainnya dan tetap MENIKMATINYA. Ada yang malah MENCAMPURKAN semua rasa sehingga TERCIPTA rasa UNIK yang hanya dia sendiri suka.

Merasa aneh? Mungkin iya.

Tetapi jika yang MENIKMATINYA saja menyukainya dan memberinya kebahagiaan tanpa merugikan orang lain dan memang hal yang baik, mengapa pula kamu, saya, kita semua harus menghakiminya karena menurut kita “aneh” atau berbeda?.

Itulah yang sering kamu lakukan pada dirimu sendiri. Terlalu mendengarkan PENDAPAT orang lain yang belum tentu benar dan MENGHAKIMI kehidupan orang lain tanpa mengetahui dan mencari tahu kebenarannya.

Semakin kamu mendengarkan, semakin kamu jauh dari yang kamu inginkan. Semakin kamu menghakimi, semakin kamu jauh dari kebahagiaan.

Nikmatilah es krimmu. Cobalah rasa lain jika perlu. Dan jikalau itu belum cukup bagimu ciptakan sendiri es krimmu. Dengan RASA, BENTUK dan WARNA kesukaanmu. Yang baik bagimu, juga baik bagi sesamamu.

:)

Goodbye Happines

Kau dan aku tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah.

Percaya atau tidak, begitulah kenyataannya.

Jangan menyangkalnya karena akan sia-sia.

Sama seperti berjalan di atas pecahan kaca, setiap langkah kita sesungguhnya hanya akan menuai luka.

Kau dan aku seperti tengah mencoba untuk membirukan senja yang selalu merah.

Kita sama-sama berusaha, namun tidak bisa mengubah apa-apa.

Senja tetap berwarna merah dan hatiku masih saja berkata tidak.

Maka, berhenti dan renungkanlah ini semua sejenak.

Tidak ada gunanya memaksa.

Ini hanya akan membuatmu tersiksa dan aku menderita.

Lantas, kenapa kita tidak menyerah saja? Bukankah sejak awal semuanya sudah jelas? Akhir bahagia itu bukan milik kita :)

Coretan Dinding Kita

DI DALAM DANAU MASIH ADA HALIMUN

Aku ingin mengecupmu:namun dinginku menyerang
putih:memutih
hijau:menghijau
tasbih cinta:cintaku bertasbilah

Perempuanku bertanya:bertanyalah perempuanku
bintang jatuh:jatuhlah bintangku
cahaya membiduk cahaya
perahuku patah:dayungku pecah

Akulah penguasa cintamu:cintamu adalah penguasaku
senja mengukir senja:melukis puisi di kedua bola matamu
cinta membunuh cinta:menyetubuhi tubuhku
dan, aku masih tetap mengukir butiran keringatmu di telapak tanganku

Bungamu, bungaku:mengecup khayalku
aku menari, mengeja cahaya di atas tubuhmu:memagutmu
di bawah langit, di atas tanah, di bawah danaumu:di halimun itu
dan, aku masih terus saja mengaji dirimu:melukis wajahmu di tiap kelopak bunga pada taman" hatimu

I Will Never Leave You, My Dear Friend



I needed alone for a little while
And back to you when tears gone
God doesnt seem fair to me
Rainbow doesnt seem last any longer

But I know where I put my hope
Hope that you always teach me
Hope.
That is the only thing I have now

You are the bright shiny sun to me
You are the glowing angle in the dark
You make my life so beautiful

I dont care if it takes twenty years to be with you
I dont care if it takes ten years to be with you
I dont care if it takes a year to be with you
It would be a great blessing for me

I am not asking more from you
Tell me again all those stories
Let me write it down on the rock
So it would last forever

Come, hold my hand, my dear
I’ll be with you through the valley
I’ll be with you at the darkest night
I’ll be with you at your hardest time
I’ll walk with you to the end of our journey

You are not alone my dear..
You are not alone..

Minggu, 01 April 2012

Kita Bahagia Bila......


Kita Bahagia Bila......


Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri. Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan no. satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jikalau berharap dari orang lain, siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati. Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepadanya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari. Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang.